Saat ini Corona menjadi pembicaraan yang hangat. Di belahan
bumi manapun, corona masih mendominasi ruang publik. Dalam waktu singkat saja,
namanya menjadi trending topik, dibicarakan di sana-sini, dan diberitakan
secara masif di media cetak maupun elektronik. Severe Acute Respiratory
Syndrome Coronavirus 2 (SARS-COV-2) yang lebih dikenal dengan nama virus corona
adalah jenis baru dari coronavirus yang menyebabkan penyakit menular ke
manusia.
Novel Covid-19 atau yang sering kita dengar Covid-19 ini
dapat menyebar dengan sangat cepat. Hanya melalui droplet yang dikeluarkan oleh
si penderita. Bahkan Virus Corona inipun dapat menyebar dari barang yang baru
saja disentuh oleh si penderita dan tidak sengaja disentuh oleh orang sehat.
walaupun awalnya ada pendapat hanya lansia yang rentan terhadap wabah ini,
namun ternyata Corona dapat menyerang balita, anak-anak, bahkan anak remaja
sekalipun.
Hal itu yang membuat banyak negara yang melakukan sistem
penguncian wilayah atau lockdown agar tidak terjadinya ledakan kenaikan angka
positif Corona. Banyak kantor-kantor melakukan Work From Home (WFH) tanpa
terkecuali menyerang dunia pendidikan.
Sejak 16 Maret, Kemdikbud mengumumkan proses belajar
mengajar di sekolah ditiadakan terlebih dahulu dan digantikan dengan kegiatan
belajar mengajar secara online. Namun, terdapat beberapa sekolah yang tak siap
dengan sekolah online yang mana membutuhkan perangkat telekomunikasi untuk
terus berhubungan dengan siswanya yang terlihat dari banyak kabar yang beredar
di media sosial.
Masih banyak kasus dimana anak-anak di Indonesia belum
memiliki ponsel untuk menunjang pembelajaran jarak jauh. Apalagi, kini sekolah
banyak mengirimkan tugas-tugas yang dikerjakan dan dikumpulkan via email. Alhasil,
kerap kali terjadinya pencurian ponsel yang dilakukan kerabat siswa demi bisa
berhubungan langsung dengan guru melalui media online. Terkait sinyal internet
di Indonesia pun masih kurang merata. Terdapat beberapa daerah di Indonesia
lemah atau bahkan tak ada sinyal ponsel, terkhususnya daerah pendalaman.
Beberapa siswa sampai harus ketempat yang tak lazim, seperti
hutan, lembah, hingga di dipinggiran sungai. Mereka harus berjalan berkilo-kilo
meter untuk mendapatkan sinyal ponsel serta mengerjakan tugas online secara
online. Ya, itu haruslah dilakukan agar mereka tidak ketertinggalan pelajaran
dengan lainnya.
Guru ditekankan lebih kreatif untuk memberikan pengawasan
kepada murid-muridnya dengan mengaplikasikan apapun cara agar proses belajar
mengajar dapat tersalurkan. Beberapa guru di sekolah mengaku, jika pembelajaran
daring ini tidak seefektif kegiatan pembelajaran konvensional (tatap muka
langsung), karena beberapa materi harus dijelaskan secara langsung dan lebih
lengkap. Selain itu materi yang disampaikan secara daring belum tentu bisa
dipahami semua siswa. Berdasarkan pengalaman mengajar secara daring, sistem ini
hanya efektif untuk memberi penugasan, dan kemungkinan hasil pengerjaan
tugas-tugas ini diberikan ketika siswa akan masuk, sehingga kemungkinan akan
menumpuk.
Baca Juga: Ini Alasan Internet Kamu Sering Lambat Atau Tidak Ada Jaringan
Dengan demikian guru dituntut mampu merancang dan mendesain
pembelajaran daring yang ringan dan efektif, dengan memanfaatkan perangkat atau
media daring yang tepat dan sesuai dengan materi yang diajarkan. Walaupun
dengan pembelajaran daring akan memberikan kesempatan lebih luas dalam mengeksplorasi
materi yang akan diajarkan, namun guru harus mampu memilih dan membatasi sejauh
mana cakupan materinya dan aplikasi yang cocok pada materi dan metode belajar
yang digunakan.
Hal yang paling sederhana dapat dilakukan oleh guru bisa
dengan memanfaatkan WhatsApp Group. Aplikasi WhatsApp cocok digunakan bagi
pelajar daring pemula, karena pengoperasiannya sangat simpel dan mudah diakses
siswa. Sedangkan bagi pengajar online yang mempunyai semangat yang lebih, bisa
menngkatkan kemampuannya dengan menggunakan berbagai aplikasi pembelajaran
daring.
Namun sekali lagi, pilihlah aplikasi yang sesuai dengan
kebutuhan guru dansiswa itu sendiri. Tidak semua aplikasi pembelajaran daring
bisa dipakai begitu saja. Namun harus dipertimbangkan sesuai kebutuhan guru dan
siswa, kesesuaian terhadap materi, keterbatasan infrastrukur perangkat seperti
jaringan. Sangat tidak efektif jika guru mengajar dengan menggunakan aplikasi
zoom metting namun jaringan atau signal di wilayah siswa tersebut tinggal
tidaklah bagus.
Oleh karena itu, semoga
pandemi Covid-19 ini cepat berlalu seiring dengan new normal yang telah
diberlakukan oleh pemerintah. Sehingga proses pembelajaran bisa terlaksana
seperti semula dengan kehadiran guru dan siswa yang saling berinteraksi
langsung seperti sedia kala.
